Sekali lagi, semestaku.
Sekali lagi, aku mengitari kota dan menerka-nerka setiap punggung laki-laki yang berjalan berpapasan denganku. Terus berharap itu bukan kamu, karena mereka tidak pernah menatap aku sedalam matamu dulu.
Sekali lagi, sepiring lasagna di hadapanku begitu hambar. Yang terasa sedikit manis hanya segelas es jeruk dan semangkuk es krim cokelat yang aku pesan. Karena dahulu mereka menu kesukaanmu.
Sekali lagi, di halaman terakhir buku-bukuku masih tertera nama kamu. Dengan kapital. Karena kamu begitu besar artinya. Penghapus pun tidak rela menyapu jejak-jejakmu.
Sekali lagi, tanganku meraba tanganku yang satunya. Mencari bekas sidik jarimu disana. Dan ia pun menangis karena hanya bisa menggenggam rindu.
Sekali lagi, berjuta kalimat perpisahan sudah aku rangkai. Aku mengucap terlalu banyak selamat tinggal. Karena setiap kali aku bersiap rela, aku selalu jatuh lagi.
Sekali lagi, aku tidak pernah memikirkan kamu, kamulah yang tidak pernah pergi dari pikiranku. Hingga setiap detik yang berlalu berharap kamu masih ada disini.
Sekali lagi, setiap partikel mini di ragaku berteriak-teriak mengatakan bahwa aku kalah. Dan merindukanmu adalah kekalahan terindah yang pernah aku alami.
Sekali lagi, sebelah dariku meminta semoga kita saling lupa. Hidupku, hidupmu, akan lebih mudah. Tapi sebelah lagi menyeretku untuk bertahan dan ingin kamu tergila-gila lagi.
Sekali lagi, aku letih tertatih-tatih. Pasrah digusur rasa ingin pulang. Mengambil kepingan-kepingan penantian kecil dan memberikan seutuhnya kepada kamu seperti dulu.
Sekali lagi, pergilah sejauh-jauhnya. Aku ke barat, kamu ke timur. Tapi ingatlah bahwa bumi itu bulat. Niscaya kita bertemu lagi.
Sekali lagi, aku menuliskan rasa tentang aku, kamu dan koloni rindu yang begitu besar.
Sekali lagi, aku terjebak di perbatasan antara usai dan tidak usai.
Sekali lagi, semestaku begitu luas dan indah. Tapi bisa kurangkai dalam empat huruf; kamu.
Sekali lagi, aku hanya mau kita tidak menyerah, untuk selamanya.
.
.
.
.
.
Aku merindukanmu, semestaku.