Mengejar Ekor Naga
Katanya merah lambang kebahagiaan.
Nyatanya aku dibalut merah tapi hanya dibungkus gerah.
Barangkali hatiku perlu dibelikan baju warna merah juga.
Hidup yang manis itu diwakili kue keranjang.
Namun di gigitan pertama hanya tersisa pahit.
Barangkali aku lupa bagaimana rasanya manis.
Orang yang bilang lampion itu bikin beruntung ingin aku gantung.
Buktinya aku tidak menemukan batang hidung kamu.
Barangkali kamu lupa kalau ini Tahun Baru, atau mungkin kamu lupa sama sekali dengan aku.
“Kenapa Xiang Li tidak telpon saja?” Jiu Mei menepuk-nepuk pundakku, daripada diberi angpao dia lebih pantas diberi gelar cenayang.
Jari-jariku memaksa untuk menekan tombol dial.
Sembilan detik kemudian, ada suara kamu.
“Wei.”
“Wei. Kamu Tahun Baruan dimana?”
“Aku di Beijing, dengan keluarga. Sekarang sih sedang di Tianning. Salam untuk keluargamu ya.”
“…..”
Aku mau ditabrak barongsai saja. Mau di Beijing atau bukan kamu tetap terasa jauh.
“Kenapa, Xiang Li?”
“Dong Yi…”
“Ya?”
Rasanya kita seperti dibentengi Tembok Cina Raksasa.
“Tidak apa-apa, xin nian kuai le! Gong xi fa cai, wan shi ru yi.”
“Gong xi fa cai, Xiang Li.”
Telpon ku tutup. Tidak diakhiri wo ai ni lagi. Tapi diakhiri genangan air di sudut mata.
——
Seperti naga yang mengejar ekornya sendiri. Berputar-putar. Tidak berkesudahan.
Seperti itu pula perasaanku.