Kalimat Sahabat.
“Perpisahan itu rumus dunia.” Suaranya disapu belaian angin menuju barat daya. Aku cuma membisu. Memperhatikan ombak kecil yang menggelitiki kedua kakiku.
Lalu tangannya menengadah, menampung bulir-bulir air laut.
“Nela, kalau aku buka tangan, airnya jatuh nggak?” tanyanya padaku.
“Ya iyalah, bodoh.” tukasku. Masih tidak mengerti dengan analogi kesekiannya yang selalu dia beritahu padaku.
“Kalau aku genggam kuat-kuat, airnya bakal pergi juga nggak?”
“Iya. Kan bakal melewati sela-sela jari.”
“Nah. Seperti itu perpisahan terjadi.” Jelasnya mantap.
Aku tatap matanya. Luas. Laksana Gurun Sahara. Tempatku mencari setitik oasis.
Aku lihat matahari memeluk laut. Lalu aku peluk sepasang lututku erat-erat. “Ruben kenapa bilang begitu?”
Tidak langsung menjawab, dia cuma tersenyum. “Nela takut berpisah nggak?”
“Ya tergantung sama siapa. Kalau sama dosen manajemen yang galaknya kayak bulldog sih nggak takut pisah.”
Tawa kami pecah. Burung-burung Jalak pun beterbangan. Sore itu laut ikut tertawa bersama kami.
“Nel, kamu lebih takut kehilangan aku atau pacar kamu, si Rudy yang terganteng seantero Bima Sakti itu?” Matanya mendelik jahil, sedikit oasis itu kulihat pudar berurai.
“Ya kehilangan Rudy. Soalnya, kalau kamu nggak balas sms, aku nggak bakal sakit hati, tapi kalau Rudy yang kayak gitu bakal lain lagi ceritanya. Kalau kamu jalan bareng cewek manapun, aku pasti biasa aja, tapi kalau Rudy kayak gitu aku bakal cemburu. Kalau kamu nelpon aku tiga jam mungkin aku nggak akan menerka-nerka yang aneh-aneh, tapi kalau itu Rudy, aku pasti udah terbang ke ionosfer.”
Tawaku pecah sendiri. Burung-burung jalak cuma membatu di dahan-dahan putih. Laut hening tak beriak sedikit pun.
Canggung. Aku tatap matanya. Oasis itu semakin hilang entah kemana.
“Kalau gitu kita sahabatan selamanya ya, Nel.”
Dahiku berlipat. Dua tahun mengenalnya tidak membuatku cukup handal dalam membaca perkataannya.
“Maksud kamu? Ya iya sih kita sahabat, bro. Curhat di ym sampai malem, ngomongin Rudy lah. Ngomongin dosen, berkelana nyariin sushi terenak dari satu restoran ke restoran lainnya, punya distro bareng. Kamu itu bukan cuma rekan kerja tapi sahabat, Ben. Yang pasti aku kangenin tiap kamu nggak ada.”
Suaranya bergetar parau. Getir. “Oke deh, kita sahabatan terus ya.”
Tidak ada tawa yang pecah lagi. Oasis itulah yang kini pecah.
“Alasannya, Ben?” Hati-hati aku bertanya. Pandanganku terpaku padanya.
“Karena aku nggak mau suatu hari nanti ada salah satu di antara kita yang bilang “Selamat tinggal. Terimakasih untuk semuanya. Kamu pantas dapat yang lebih baik.” Ya, seperti itu. Lalu pergi, selesai gitu aja. Kita bakal sama-sama janji untuk tetap bersahabat setelah pisah tapi pada nyatanya nggak akan ada satu pun dari kita yang berani buat sekedar nanya kabar. Nggak akan ada lagi ngomongin dosen, berkelana nyariin sushi terenak dari satu restoran ke restoran lainnya ataupun punya distro bareng. Kita akan canggung. Dan kehabisan cara untuk bersahabat biasa kayak dulu. Lalu kita akan sama-sama punya yang baru lalu sama-sama lupa. Itu jahat.”
Ditariknya nafas dalam-dalam. Tiba-tiba hati Ruben terasa lebih dalam dari palung laut manapun di bumi.
“Nela, aku nggak berpikiran kalau kamu suka dengan aku atau gimana. Kalau emang ada salah satu dari kita yang jatuh cinta. Cukup satu. Jangan keduanya, Nel…”
Satu-dua jalak menyahut deru suara Ruben sembari terbang. Mengepakkan sayap.
“Cukup aku. Seperti sekarang.” Lanjutnya.
Tiba-tiba jantungku terpompa cepat. Mengikuti deru kepakan sayap jalak-jalak putih.
“Kita bersahabat. Supaya nggak ada perasaan yang tumbuh lebih tinggi dari rumput laut di dasar sana, supaya nggak perlu ada yang kehilangan. Karena cuma dengan cara itu kita nggak berkuasa saling menyakiti.”
Aku mematung, jemari kakiku menusuk pasir. Berharap bisa tenggelam disana saat ini juga.
“Aku lebih memilih jadi tempat sampah kamu. Terima curhatan 24 jam. Daripada jadi satpam yang jaga hati kamu 24 jam tapi akhirnya dipecat juga. Biar Rudy aja yang jadi satpamnya.”
Tawa Ruben pecah sendiri. Ku dengar hatinya pecah berserak di sela-sela tawanya. Ombak mencacah kekuatannya untuk berdiri.
“Susah ya, Nela. Jatuh cinta sama sahabat sendiri. Mau curhat sama siapa? Cuma kamu sahabat aku. Setelah ini, jangan bahas lagi ya. Cukup kita bersahabat. Sakit sedikit ketika kamu cerita soal Rudy itu lebih baik daripada sakit kehilangan kamu. Perpisahan lebih jahat dari apapun, Nel.”
Laut sore perlahan melumat matahari bulat-bulat. Tersisa gelap. Ku telan aksara demi aksara pelan-pelan. Pahit. Sekian milyar kata-kata tersimpan rapi di otakku, tidak tau mana yang harus kupilih untuk membalas kalimat-kalimat Ruben. Kalimat sahabat. Tentang hati yang mau cinta tanpa mau jatuh. Tentang air yang mau digenggam tanpa lepas lewat sela-sela jemari. Tentang rumput laut yang tidak mau tumbuh tinggi-tinggi, yang ingin dikubur lautan luas selamanya.
Biar saja aku seperti matahari, kamu seperti bumi.
Kamu kira aku pergi, padahal kamulah yang berputar.
Jika kamu ingin tatap aku lagi, cukuplah berbalik arah.
Aku akan tetap disana. Tidak hilang. Alam raya mengikat kita.