Kepada Ayah Nomor Satu Seluruh Dunia.
Nomor satu adalah membangunkan tiap pagi dengan cubitan atau sindiran.
Nomor satu adalah tetap mengucapkan selamat pagi meski aku baru bangun pukul sembilan.
Nomor satu adalah rela datang terlambat menuju kantor gara-gara mengantarkan aku ke sekolah.
Nomor satu adalah mengambil cuti tanpa permisi saat aku terbaring lemah di tempat tidur.
Nomor satu adalah menggenggam tangan kananku di kala bius disuntikkan ke dalam punggungku.
Nomor satu adalah tidur di lantai kamarku dengan balutan sarung hijau tua sewaktu menunggu demamku hilang.
Nomor satu adalah menunggu dua hingga tiga jam cuma untuk sekantung obat dari apotek rumah sakit—-buatku.
Nomor satu adalah membagi mie rebus semangkuk berdua sekalipun sama-sama tau perut masing-masing akan protes karena tidak terisi penuh.
Nomor satu adalah selalu mengatakan raporku bagus, sekalipun nilai sembilannya cuma satu saja.
Nomor satu adalah marah-marah saat seragam putih-abu punyaku belum disetrika, padahal tidak geram apabila seragam miliknya kusut tiada ampun.
Nomor satu adalah memelukku dari belakang saat aku makan.
Nomor satu adalah berkutat dengan printer yang manja berjam-jam supaya makalahku bisa tercetak.
Nomor satu adalah menyisakan sepotong sayap ayam goreng buatku dan memilih tempe goreng saja buatnya.
Nomor satu adalah menonton televisi bersama sambil mentertawakan Mario Teguh dan debat kusir tentang negara di sekian saluran.
Nomor satu adalah bangun jam tiga pagi untuk tahajud dan memperbaiki selimutku yang cuma membalut setengah badanku.
Nomor satu adalah Ayah. Ayah yang tidak banyak bicara. Ayah yang mengajarkan seribu dalam satu diam.
Ayah yang tidak pernah memberikan barang super tersier ala ababil ataupun setia mentraktir makan di restoran termahal seantero kota,
karena untuk masuk Surga cuma perlu tangan Ayah yang mengobrak-abrik rambutku tiap menyuruhku solat lima kali sehari.
.
.
.
Untuk laki-laki yang paling aku sayangi di dunia, kamu nomor satu, Ayah.