Cinta Bola Basket.

Aku benci matematika
Tapi aku suka mengukur jarak dan sudut
Dari tempatmu dan tempatku berdiri
Buat menerka-nerka apakah kamu memperhatikan aku atau tidak

“Fina! Ayo pulang. Sore nih sore.”
“Nggak ah, duluan aja.”
“Ya udah deh. Lagi sibuk nonton pangeran sih. Dadah!”
Ini bukan menonton. Ini namanya jatuh cinta.
Aku tau cinta cuma semu indah di awal. Mencekik di akhir.
Tapi hati tetap hati.
Hai kamu, yang disana menggenggam bola basket oranye.
Apa yang salah denganmu? Kenapa semua mesti serba kamu?

Gerimis jatuh mendaratkan diri di seluruh lapangan. Satu demi satu.
Lalu kamu menepi langkah demi langkah. Sembari jantungku berpacu lebih cepat berkali lipat.

“Halo Fina.”
Satu sapaan. Dua kata. Tiga detik cukup buat menerbangkanku ke bulan.
“Hai. Kok belum pulang?”
Empat kata. Lima jariku gemetar penuh peluh.
“Nunggu kamu, Fin. Hahaha. Cuma mau kasih ini.”

Enam larik, tujuh carik terpaku
Fina cantik, mau jadi pacarku?

Satu senyum tertahan di bibir. Aku harap tidak semudah itu.
“Masukkan dulu bola ke dalam ring 10 kali. Aku bakal bilang iya.”
Kamu mengangguk. Remeh. Seakan hati cuma permainan.

Delapan menit. Sembilan kali bola oranye menembus jaring-jaring.

Aku cuma tertawa. Satu lagi, pikirku.
Aku hafal mati dengan senyummu, cara berlarimu dan gerakan tanganmu saat melempar bola.
Tapi melihatnya berkali-kali membuatku dibanjiri rasa senang.
Kali ini definisi bahagia itu sederhana.

Sepuluh kali bola basket mengitari ujung lingkaran sebelum jatuh.

“Sebenarnya mau bolanya masuk atau nggak, jawabannnya tetap iya.”

Kita, langit sore dan bola basket pun tertawa.
Dengan jemari saling berkait.
Biar pelukan kelingking yang bicara.
Ada surga kecil di lapangan sekolah, tempat hujan jatuh
Bersamaan dengan hati kita.