Simpan Saja.
“Aku mau berdoa buat Tuhan.”
“Kenapa?”
“Supaya Tuhan memperbaiki kita yang sudah rusak.”
—
Meja 8. Meja 10.
Ada kita saling berpunggungan. Tidak lagi menawarkan senyum.
Tanpa kata, apalagi sapa sebagaimana selayaknya.
Kita adalah orang asing dengan kenangan.
Ku telan tofu bulat-bulat, seperti aku menelan kenyataan. Pahit.
“Lana gila! Move on dong!”
Cuma aku balas titik dua kurung tutup.
Kata orang senyum mampu menutup luka.
Tapi lukaku perlu senyum yang terlalu besar.
Simpan saja. Akan ku kunci rapat-rapat.
—
“Kalau aku tinggalin kamu, kamu boleh bunuh aku.”
“Farid gombal stadium parah!”
“Eh asli! Soalnya aku pasti bego, Lan.”
Anggap itu janji manis. Pertanda kita pernah saling terlalu jatuh cinta sampai menabung janji mustahil.
—
Dan sekarang inilah aku. Mengenakan jaket darimu yang entah kenapa tidak lagi terasa hangat.
Duduk di meja 8. Tidak berharap kamu datang.
Aku baik-baik saja dengan seratus enam puluh delapan jam seminggu tanpa kamu punya waktu untuk sekedar menyapa.
Aku baik-baik saja dengan tidak adanya laporan dua jam sekali mengenai kamu ada dimana dan sedang apa.
Aku baik-baik saja dengan kabar kamu lagi jatuh cinta dengan perempuan lain.
Aku baik-baik saja dengan luka. Dengan kenyataan.
Restoran ini salah. Perasaan ini salah. Semua salah.
Eh, aku tidak menangis kan? Apa aku duduk dekat koki yang mengiris bawang?
“Lana, boleh aku duduk disini?”
Mataku buram dengan bekas lelehan air mata yang barusan ku seka.
Lalu kamu datang sembari membuka bekas luka.
“Iya. Boleh.”
Tidak ada yang lebih bodoh dari lagi-lagi bilang iya.
“Apa kabar? Lama nggak ngobrol. Aku kangen Lana, haha.”
Kira-kira bagaimana? Aku baik-baik saja setelah begitu lama kamu pergi tanpa menoleh? Aku cuma kangen kita. Yang dulu.
“Kabarku baik, Farid.”
Ada yang janggal dengan kita.
Berjarak satu meja. Sama-sama GMT+7.
Tapi dinding yang membatasi kita masih dapat aku raba.
“Maaf aku pergi, Lan. Maaf aku egois padahal kamu udah nangis-nangis. Aku ingin perbaiki sebelum semuanya terlambat.”
Terlambat. Kamu bahkan tidak pernah tau definisi terlambat.
“Aku mau minta kamu kembali, Lana.”
Hell no. Itu yang paling ingin aku dengar, tapi paling aku benci.
“Lan, ayo ngomong.”
Diam. Aku sedang berbicara dengan diri sendiri. Menimbang hati. Memilah sisi mana yang harus aku pilih.
Aku menarik nafas panjang. Mungkin cukup buat menghisap kadar udara di seluruh ruangan.
“Kita sama-sama tau akhirnya. Kamu akan pergi. Dan aku akan pasang tenda dekat rumah kamu dua hari kemudian cuma buat mendedikasikan hidup untuk minta kamu kembali. Semua nggak ada artinya.”
“Tapi aku janji, buat nggak pergi sedikitpun.”
“Dulu kamu juga pernah bilang begitu, lalu mana? Mana mantan pacar? Mana mantan sahabat sejati? Siapa yang bilang jangan berubah? Siapa yang justru berubah?”
Ada segenang air tertahan di sudut mata, tapi terlalu gengsi untuk sekedar jatuh.
Ada hati yang rusak tapi tidak bisa diperbaiki.
Ada yang ingin pulang, tapi jalan sudah tidak lagi sama.
Alam ini cair, semesta bergerak. Kita berubah.
“Simpan saja.”
Cinta, kadang tidak cukup buat jadi alasan untuk bertahan.
Aku naif.
Dan aku cuma mau cinta tanpa tanggal kadaluarsa.