Ada sepasang sepatu tergeletak di sudut ruangan. Dia usang. Tiap malam berdiskusi hebat dengan lantai dan dinding kamar, tentang kenangannya.
Dia rindu kepada debu, kepada tanah, lantai restoran dan trotoar samping jalan raya. Rindu kepada pasir pantai, lumpur dan kubangan di jalan setelah hujan. Merindukan sepasang kaki yang menghuninya berlari, dengan senyum tipis. Bersama sepasang sepatu yang lainnya. Yang biasa tinggal. Yang sudah meninggalkan.
Sepasang sepatu itu bersedih. Terlalu sedih untuk dikenakan lagi.
Aku bahkan tidak tau kenapa. Aku tidak mau sepatu yang baru.
(Source: ur-knife-my-back-my-gun-ur-head)