Serdadu Sandiwara
Ludi itu sahabat Okan sejak sekolah menengah atas.
Ludi itu satu yang tersimpan diam-diam dalam hati.
—
Kalau memalsukan perasaan adalah kriminal, aku pasti sudah dihukum gantung.
Jemariku bertaut dengan jari Okan, tapi perasaanku tidak.
Hati tidak perlu ditanya. Dia tahu sendiri jawabannya.
Ini cuma soal aku. Yang terlalu pandai menyangkal.
“Lo kenapa sih lihatin Ludi terus? Naksir ya? Okan ganteng ini cemburu loh.”
“Ya enggaklah, masa naksir sama sahabatnya pacar sendiri?”
Aku menggaruk kepala yang padahal tidak gatal sama sekali. Lalu tertawa keras. Menertawakan badai dalam diri. Terlalu banyak topeng yang aku kenakan. Aku lupa raut wajahku yang sebenarnya.
—
Ponselku senang berbincang lewat pesan denganmu hingga larut malam, meski cuma soal bubur ayam depan kampus yang katanya enak stadium surga, atau jadwal rapat yang tiba-tiba diubah, atau juga tentang Okan. Ponselku senang, begitupun pemiliknya.
“Nira, hari ini berapa bulanan nih sama Okan? PING!”
“Empat bulan, Ludi.”
“Cemburu nih, Okan kan punya gue hehe. Harusnya.”
Kamu juga punyaku. Harusnya.
Dari skala satu sampai seratus, nilai untuk mustahilnya Ludi memilih aku adalah 100.
Dan nilai ketegaanku buat memilih Ludi dibanding Okan adalah -100.
Tapi cinta adalah satu-satunya hal yang membuat orang jadi egois. Setidaknya kepada dirinya sendiri.
—
“Ra, ada Ludi loh, di kafe ini juga.”
“Oh ya? Kok kita nggak lihat? Dia di lantai dua?”
“Iya. Gue suruh turun ya.”
Okan menelpon sebelum aku sempat bilang tidak.
Seharusnya dari dulu aku bilang tidak ya, Okan?
Aku selalu terlambat cuma buat bilang tidak.
Ludi menuruni tangga kafe sendirian. Kemeja coklat polos, jam tangan di tangan kanan dan aroma parfum yang akan selalu ku ingat. Aku butuh serdadu hebat untuk menjaga pertahananku. Jika tidak sanggup menahanku dari jatuh cinta, setidaknya untuk menutupi hati. Itu lebih dari cukup.
“Halo Okan, Nira. Cie masih langgeng aja nih.”
“Hei bro, iya dong. Nira kan cinta sama gue, ya kan Ra?”
Aku tergagu. Lagi-lagi tidak sempat buat bilang tidak. Mulutku menyebut namanya tapi cuma namamulah yang mataku eja.
“Eh iya Di, ngapain disini? Ketemuan sama siapa?”
“Cewek gue.”
Tidak. Serdaduku, tolong jangan lengah. Sekarang jaga air mataku biar tidak mengalir. Tidak satu tetes pun.
“Wah siapa? Monyong lu punya pacar baru gak cerita-cerita ke temen SMA.”
“Namanya Nadia, anak FK. Dia berkacamata. Rambutnya panjang.”
Dan dia lebih beruntung dari aku.
“Kapan-kapan kenalin ke gue. Selamat ya, Ludi.”
Seulas senyum tipis dengan seribu kata tertahan di bibir. Aku aktris ulung. Jadwal sandiwaraku padat. Berbohong adalah hal termudah, kecuali membohongi diri.
“Eh itu Nadia, gue pergi dulu ya. Lain kali kita ngobrol lagi bertiga.”
Ludi tersenyum lebar. Menggamit tangan gadis berambut panjang itu.
Tanpa tau yang semestinya dia genggam itu tanganku.
Seribu liter air mata tertahan di pelupuk.
Aku bisa menahan tangis tapi tidak bisa menahan hati.
Lagi-lagi hati, kenapa kamu banyak sekali maunya?
Sementara aku cuma tidak mau Ludi pergi jauh.
Kalau harga dari mengatakan bahwa aku mencintaimu adalah kamu menjauh, lupakan saja.
Itu terlalu mahal.