Bertaruh Tuhan Di Atas Meja.

Gelas tergeletak. Asbak melayang. Tidak ada raut rasa secuil pun. Hanya ada setumpuk kanvas putih kelabu di sudut kanan. Dengan kuas-kuas kering bertaburan, tanda lama tak disentuh pemiliknya.

“Kamu tidak lagi atheis.” Caranya mengayunkan nada seolah menunjukkan bahwa itu bukanlah pernyataan melainkan pertanyaan.

Singkat kujawab, “Ya.” Sambil melangkahkan kaki menuju jendela. Meninggalkan secangkir kopi hangat di bibir meja. Menghindari sergapan tanda tanya yang tidak perlu ku terima satupun. Terutama karena ia yang bertanya.

“Memangnya kamu percaya Tuhan? Bukannya dulu kamu paling bertahan ketika ada orang yang mencoba membuat kamu percaya?” Ringan ia berkata sembari menyusun kanvas demi kanvas.

“Aku percaya Tuhan. Karena Tuhan membuat aku percaya.”

“Kalau Tuhan ada kenapa kamu baru percaya sekarang? Kalau Dia memang ada kenapa kamu nggak percaya dari dulu? Kalau begitu, apa Tuhan baru ada kemarin sore?”

Aku menghela nafas panjang. Sampai sepasang paru-paruku tersedak.

“Kamu tau apa yang dulu membuat kita bertemu?”

Ia lantas beralih dari kanvas berbalut debunya, beranjak menganggap tema pembicaraan ini enteng. “Kamu datang dari kotamu. Aku datang dari kotaku. Sama-sama menuju kota ini. Saling kenal karena sesama penyuka lukisan. Dan akhirnya direkrut di tempat kerja yang sama. Sesederhana itu. Lalu dimana campur tangan Tuhan?”

Aku cuma tertawa dalam hati. Membiarkan dia memuntahkan pemaparan kata demi kata lebih jauh.

“Aku nggak peduli agama apa yang kamu anut sekarang. Banyak orang pilih satu agama cuma karena mereka terlahir di keluarga yang notabene beragama tersebut. Misalkan ada muslim, dia jadi penganut Islam karena dia terlahir sebagai muslim, bukan karena dia yang memilih. Lalu dimana campur tangan Tuhan?”

Lagi. Jalan pikirannya semakin mekar bercabang. Sayangnya cabang-cabang itu mengikatkan diri pada jalan tanpa arah.

“Coba kamu pikir, kenapa berhasil tidaknya seseorang bergantung pada Tuhan? Padahal ya jelas lah, orang yang berhasil karena mereka bekerja keras, selebihnya gagal karena usahanya kurang sesuai. Setelah ini kamu pasti akan tanya kenapa matahari bersinar? Ya karena matahari itu bintang, dimana terjadi reaksi fusi. Lalu kenapa ada siang & malam? Karena bumi berotasi. Kenapa angin bertiup? Karena perbedaan tekanan. Kenapa ada makhluk hidup ini dan itu? Karena mereka dilahirkan. Kenapa orang mati? Bisa karena sudah tua, atau tubuhnya sudah tidak mampu menopang lagi karena disfungsi, ada banyak alasan. Semua pertanyaan bisa kita jawab, bahkan jawabannya bisa kita lihat dengan mata kita masing-masing, dimana campur tangan Tuhan?”

Semua terlanjur kusut. Dia menarik kursi, mempersilahkan dirinya sendiri untuk duduk dan merapikan kuas-kuas ke dalam cangkir putih.

Aku duduk di hadapannya, kami bertaruh tentang Tuhan di atas meja. Getir aku membuka mulut.

“Kamu, pernah jatuh cinta?”

Dia tergelak tawa. Belum juga mengerti.

“Oke, kalau kamu nggak mau jawab. Tapi aku pernah. Dan ini bisa menjelaskan.”

Jemariku melingkari pinggiran secangkir kopi. Menatap teduh bayangnya yang terpantul tanpa cela.

“Sewaktu orang jatuh cinta, tidak ada yang tau kenapa. Mungkin orang bakal menjawab karena dia selalu ada, bisa membuat kita senang, sabar dengan kita atau semacamnya. Tapi itu cuma alasan buat lari dari kenyataan bahwa kita—namanya jatuh ya jatuh saja. Apa ada jatuh yang disengaja? Apa ada jatuh yang bisa kita cegah sebelum terjadi?”

Bola matanya berputar menatap langit-langit, mencari celah. “Lalu bagaimana dengan perpisahan? Itu kan di tangan manusia sendiri.”

“Semua orang akan berpisah. Dengan alasan sudah tidak cocok, ada orang lain, ingin sendiri dan sebagainya. Apapun alasan untuk berpisah, akarnya cuma satu; sudah waktunya. Tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tidak perlu kita tanya kenapa.”

Masih. Kopi mendingin, dia membeku. “Kenapa kita tidak perlu tanya kenapa?”

“Karena perasaan tidak sesederhana pertanyaan yang dipasangkan dengan jawaban. Karena di kala kita punya pertanyaan dan tidak menemukan jawabannya. Disitulah kita sadari campur tangan Tuhan. Bahwa ada beberapa hal di dunia ini yang tidak perlu kita tanya kenapa, tapi tetap harus terjadi. Kenapa harus jatuh cinta? Kenapa harus berpisah? Kenapa perasaan tidak bisa dihapus? Kenapa seorang ibu membela anaknya yang jelas salah? Kenapa prajurit rela mati buat negaranya? Kenapa kamu harus lahir? Kenapa aku berbicara kepada kamu? Semua karena Tuhan yang mau.”

“Lalu dimana hak manusia untuk meminta?”

“Ada, kita menyebutnya doa. Kita meminta, Tuhan mengabulkan. Tapi cuma Tuhan yang berhak memilih mana yang boleh terjadi dan mana yang tidak boleh. Kita cuma bisa percaya.”

Sebongkah es batu di matanya telah luruh. Tidak lagi beku.

“Dan cuma cinta yang bisa membuat kita percaya Tuhan.”

Aku tersenyum. Aku ingin jadi alasan kenapa kita berbagi lukisan lagi. Aku mau jadi alasan kenapa dia tidak lagi mencari bukti, karena tidak semua perlu dibuktikan. Aku berdoa semoga dia menjadikanku pertanyaan tanpa jawaban, lalu mencari lagi seribu pertanyaan tanpa jawaban yang lain sampai dia menemukan Tuhan yang ternyata ada di hatinya sendiri. Dan keberadaannya di pikiranku setiap saat adalah pertanyaan yang cuma bisa dijawab Tuhan.

Konstelasi sekalipun tidak perlu bertanya kenapa mereka tersusun sedemikian rupa

Karena menerima adalah salah satu cara membuat Tuhan tersenyum